Freelancer True Story : Miskomunikasi yang Bikin Sangsi

Jadi gini gaes (berasa anak muda)….

Setelah join jadi member di beberapa grup FB khususnya grup-grup freelancer Indonesia, saya banyak sekali menerima curhatan/pertanyaan/keluh kesah via Messenger. Terutama yang berhubungan dengan Upwork. Mungkin kamu salah satunya? Hehehe…

Saya jadi kepikiran, wah curhat-curhat bermanfaat kayak gini bisa nih di buat segmen atau tema khusus di blog. Siapa tau juga kan, kalian mengalami problem yang serupa.

Tentunya, saya sudah ijin dong ya dengan yang empunya cerita. Saya tidak akan melanggar privasi kok, tenang saja.

So, inilah segmen pertama FTS – freelancer true story.

Mau ikutan nampang di sini? Boleh, tapi gak semua cerita langsung bisa tayang ya. Pasti melalui proses pemilihan dari segi sangat bermanfaat atau kurang bermanfaat tidaknya.

Mungkin juga ada cerita yang sama tapi di alami orang-orang yang berbeda, dll. Kalau tertarik, kalian bisa kirim email saja ke alamat email ini : freelancer.true.story(at)gmail.com

Ohya, saya tidak menyediakan fee atau imbalan ya, karena ini murni kita mau sharing dan berbagi pengalaman dengan yang lain. Kalau kamu ada blog atau sosial media, nanti di artikel yang tayang, bisa saya kasih link ke sana.

Artikel menarik >>>  Panduan Kerja Freelance 

Back to the story.

Ceritanya, pagi jam 01.30 ada notif Messenger masuk. Padahal sudah siap-siap mau tidur. Ahh, besok lagi aja lah di follow up. Badan udah capek (apalagi mata), habis belajar mandiri + praktek cara menggunakan Elementor Pro. Namanya belajar, apalagi belajar sendiri dan di usia segini, beuhh rasanya pegal linu.

Baru esok paginya, saya buka tuh Messenger. Beneran ada pesan dari seseorang. Sebut saja namanya Siska (nama di samarkan untuk menjaga privasi).

Siska bertanya ke saya seperti ini. Bahasa saya terjemahkan bebas dan menyesuaikan dengan tone tulisan saya di blog ini. Yang penting, maksud sebenarnya tersampaikan.

Siska baru saja mendapat job di Upwork untuk pertama kalinya alias pecah telor, selamat ya Siska.

Job pertamanya ini sebagai data scrapper, hourly rate, di set 2 hours per week oleh si klien. Manual time allowed alias di perbolehkan.

Siska juga bilang, baru boleh charge ke klien kalau dia sudah dapat 2K (2000) data. Nanti baru di bayar dan ada tambahan bonus dari klien.

Terus terang, sampai di sini saya sudah bingung. Ada yang sama??

Pertanyaan Siska ke saya : mbak, kalau di kerjakan lebih dari 2 jam bagaimana ya? Kan ada manual time allowed. Karena kerjaannya gak akan selesai kalau hanya di kerjakan seminggu 2 jam saja. FYI, dia sudah nambah manual time 3 jam di minggu pertamanya.

Nah, setau saya sih, manual time allowed itu digunakan untuk hal-hal atau kegiatan yang gak bisa di tracking oleh desktop app. Macam, terima telpon, riset lapangan, transfer file, render grafis, dll. Manual time allowed tuh hanya “suplement” dan intinya tidak bisa di gunakan untuk menggantikan jam hourly rate di kontrak.

Tapi Siska sudah terlanjur menambah working hournya selama 3 jam menggunakan manual time. Takutnya saya, kliennya nanti komplain.

Siska juga mengirimi saya offer yang dia terima dari klien. Beberapa informasi sengaja saya tutup demi menjaga privasi.

miskomunikasi bikin sangsi
miskomunikasi bikin sangsi

Menurut opini saya, ada beberapa kemungkinan mengapa klien hanya mengeset kontrak di 2 jam per minggu, di antaranya :

  • Sebagai trial job, nanti kalau sudah di lihat mampu atau tidaknya si freelancer, jam per minggunya bisa di tambah lagi.
  • Klien tidak di buru deadline atau tenggat waktu.
  • Berkaitan dengan budget dari klien itu sendiri, mungkin keuangannya mepet.

Saya menyarankan supaya Siska langsung berkomunikasi ke klien dia, kalau waktu pengerjaan 2 jam seminggu itu gak cukup. Saya juga mengemukakan opini saya di atas.

Siska juga mikirnya sama, ini semacam training dulu gitu. Tapi ternyata dari si klien ada bilang, jobnya sebulan harus selesai.

Nah….

Kalau dalam waktu sebulan harus selesai, berarti butuh waktu 8 jam dong. Kan kontraknya di buka 2 jam per minggu.

Saya tanya Siska, memang cukup 8 jam untuk menyelesaikan kontrak ini? Siska jawab tidak cukup. Karena paling tidak seminggu butuh sekitar 20 jam.

Waktu saya membalas Messenger itu, hari masih pagi. Sekitar jam 7-an. Saatnya saya membuat kopi dan duduk nyalain komputer. Beruntung, sarapan buat kucing-kucing sudah kelar semua.

Saya baca lagi pesan-pesan Siska mulai dari atas. Sepertinya ada yang tidak beres.

Mengapa ekspektasinya si klien bisa beda jauh banget dengan ekspektasi Siska. Klien bilang sebulan bisa selesai alias butuh 8 jam saja, sementara Ssiska bilang seminggu 20 jam, artinya 80 jam sebulan. What’s wrong nih??

Saya lalu bertanya ke Siska lagi, kok beda jauh banget antara perhitungan klien dan perhitungan kamu?

Ini kan job-nya semacam cari database gitu kan ya? tanya saya.

Iya mbak, Siska bilang.

Lalu Siska mengirim screenshot proposal yang dia kirim di bawah ini:

proposal

Dari cuplikan job detail di atas, saya bisa simpulkan bahwa :

  • Jobnya tentang database scrape, duplikasi dan mengganti sejumlah informasi di laman blog/website wordpress. Total ada 10.000 halaman atau pages yang harus di duplikasi dan di ganti infonya. Setiap halaman butuh kurleb 2 menit pengerjaan. Berarti kalau 10.000 halaman, butuh 20.000 menit pengerjaan alias 333,3333333 jam. Hampir 350 jam. Wehhhh…
  • Job atau kontrak nantinya terbagi dalam 4 milestone. Berarti per milestone harus mengerjakan atau selesai 2.500 pages baru nanti pembayaran akan release.
  • Budget dari klien untuk job ini $80.oo berarti masing-masing milestone = 2.500 pages = $20.oo

Satu hal yang terlintas langsung di benak saya, gilaa….murah banget, cenderung kerja rodi.

Siska juga mengirim satu tangkapan layar chat-nya dengan klien:

chat client

Saya enggak tahu juga, chat-chat sebelumnya seperti apa. Tapi membaca chat di atas ini, si klien jelas-jelas memanfaatkan Siska. Yang tentu saja, belum ada banyak pengalaman karena ini pertama kalinya dia menerima job, dan pastinya oke oke saja dengan semua syarat dari si klien.

Di awal job posting, si klien bilang dengan jelas bahwa nanti akan memakai 4 milestone tapi ternyata kontrak yang di buka bukan fixed-rate tapi hourly-rate. 2 jam per minggu. 8 jam harus selesai 10.000 copas pages. Menurut kalian bagaimana?

Dan kalau saya hitung lagi menggunakan rate per hour-nya Siska, yaelah…ketemunya (total amount-nya) jauh banget di bawah $80.oo

Di tambah lagi, dia baru mau di tagih kalau Siska sudah menyelesaikan sekitar 2.000-an pages. Lah..lalu apa gunanya kontrak di buka per jam bambang….?

Sedangkan, hourly-rate itu, invoice akan otomatis terkirim setiap minggu ke klien. Bagaimana cara freelancer “menagih” kalau invoicenya saja terkirim secara otomatis?

Segampang-gampangnya atau semudah-mudahnya pekerjaan, copas doang istilahnya, di bayar $80.oo setelah potong komisi upwork 20%  net-nya $64.oo. Kalau di rupiahkan sekitar IDR 864.000 (kurs 13.500) untuk 10.000 pages. Berarti ga ada 100 rupiah per page hitungannya. Menurut kalian bagaimana? Saya jadi agak pusing juga.

Di bagian atas chat itu saya tutup karena ada nama si klien. Yang ternyata yahhh tahu sendiri lah, nama-nama IPB (India,Pakistan, Bangladesh). Bukan rasis loh ya…karena ada juga teman-teman di grup yang dapat klien IPB tapi so far so good. Baik dari segi fee maupun profesionalitas-nya.

Tapi yahhh tetep ada resiko kalau dapat klien dari negara IPB gitu, sukanya ngerjain orang.

Lalu bagaimana dengan Siska?

Saya sih menyarankan Siska untuk komunikasi dengan klien-nya, untuk meninjau ulang kontraknya. Tapi sepertinya Siska enggan. Karena dia bilang, ga papa mbak, nanti dijanjikan akan ada bonus $20.oo dan review yang bagus kalau kerjaannya selesai.

Ohhh poor Siska…

Setelah jobnya selesai, dia pasti akan trauma dan enek dengan klien IPB.

Saran saya buat kalian yang masih baru memulai kerja freelance di jagat Upwork :

  • Bukannya rasis, tapi hati-hati dengan klien dari IPB. Memang gak semua kelakuannya seperti itu, ada juga teman-teman yang dapat klien IPB yang profesional, tapi sekali lagi hati-hari. Jangan sampai terjebak kerja rodi.
  • Sebelum terima job pertama, kalau kalian masih bingung atau ragu, bisa kok tanya-tanya di grup Upworker Indonesia, atau tanya ke saya by email atau messenger. Advise gratis.
  • Sebelum terima kontrak, lihat dulu feedback dan review si klien bagaimana. Dari sana baru putuskan terima kontrak atau tidak.

Semoga bermanfaat!

Sekali lagi, yang mau berkontribusi di Freelancer True Story, bisa kirim email ke saya via: freelancer.true.story(at)gmail.com

Follow:
Indriyas
Indriyas

Virtual Assistant | Link Builder | Blogger
Working as a freelancer at Upwork.
Live in Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia

Find me on: Web | Twitter | Instagram

Sharing+You = Amazing!

4 Comments

  1. Juli 5, 2020 / 4:20 pm

    ya ampun ini cerita menarik mbak
    aku baru tau klo dari kontrakn ternyata realitanya seperti itu
    tapi kalau masih baru seperti siska memang apapun kerjaan ya enggak apa apa
    cuma ya kasian juga sih
    aku keinget salah satu temen yg freelance susah banget nagih invoice pas kerjaannya udah beres
    emang kita ya kudu tegas juga ya

    • Indriyas
      Penulis
      Juli 5, 2020 / 9:39 pm

      iya memang kalo pertama kali dapat job, bawaannya gitu. ga terlalu peduli nilai yang penting dapat job dulu.

    • Juli 5, 2020 / 10:14 pm

      Duh pintar juga ya kliennya ngerjain biar bayar freelancer murah huhu semoga Siska tabah, memang sih buat pengalaman ya tapi kalau sudah tahu rodi ya gimana

      • Indriyas
        Penulis
        Juli 6, 2020 / 8:57 am

        resiko jadi freelancer salah satunya harus kuat mental:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *