freelancer dan sistem pendidikan

Freelancer dan Sistem Pendidikan di Indonesia

Freelancer dan mindset

“Once your mindset changes, everything on the outside will change along with it.”

― Steve Maraboli, Life, the Truth, and Being Free

Saya teringat kata-kata orang, bahkan orang tua saya sendiri bahwa mempelajari bahasa Inggris itu susah. Mungkin, hal itu juga yang terus menerus didengungkan oleh orang tua masa kini kepada anak-anaknya.

Akibatnya? Hanya sedikit saja orang Indonesia yang bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik dan benar.

Mindset bahwa belajar bahasa Inggris itu susah, begitu membekas dan menjadi momok turun menurun.

Saat saya masih SMP, pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling tidak disukai. Pada bilang gurunya killer lah, pelajarannya susah lah, dan segambreng alasan-alasan lain sebagai pembenaran terhadap mindset yang salah.

Saya sampai merasa kasihan loh dengan ibu guru bahasa Inggris saat itu. Seakan-akan beliau berbicara kepada tembok. Tidak ada yang merespon dan tidak ada yang mau menjawab pertanyaan karena takut dan malu. Terutama karena tidak tahu bagaimana cara spelling bahasanya serta malu di tertawakan teman-teman sekelas.

Karena, jujur saja, kita, bangsa Indonesia yang besar ini, lebih terbiasa dan lebih mudah mengejek daripada memuji. Terbiasa tutup mulut daripada berpendapat dengan bebas.

Mau bagaimana lagi? Sistem pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap karakter dan mindset masyarakat negara tersebut.

singapura-miliki-kemampuan-bahasa-inggris-terbaik-di-asia-tenggara-by-katadata
sumber: https://databoks.katadata.co.id/

Bahkan hingga setelah dewasa, banyak mindset yang belum berubah.

Faktanya, saya mendapati banyak orang yang ingin menjadi freelancer, terutama freelancer di Upwork, tapi kemampuan bahasa Inggrisnya masih sangat minim.

Ingin nangkanya, tapi tidak ingin kena getahnya. Demikian kata peribahasa. Ingin gaji dolar tapi tidak ingin susah payah mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan dunia freelance.

Menurut data tabel gambar di atas, di antara negara-negara di Asia Tenggara, Singapura memiliki peringkat tertinggi dalam kemampuan berbahasa Inggris.

Data di atas merupakan hasil riset dan di keluarkan oleh lembaga EF (English First).

EF juga mengatakan bahwa kemampuan menguasai bahasa Inggris bisa membuat seorang individu membangun koneksi dengan penduduk dunia dan memperoleh kesempatan lebih baik, seperti dalam mendapatkan pekerjaan atau memulai bisnis.

Saya sangat setuju. Karena pengalaman saya juga mengatakan hal yang sama. Dengan kemampuan berbahasa asing, minimal bahasa Inggris, kita bisa bersaing dengan freelancer dari seluruh dunia. Bukan hanya freelancer lokal.

kemampuan-digital-angkatan-kerja-singapura-tertinggi-di-asia-by-katadata
sumber: https://databoks.katadata.co.id/

Dan ya, selain peringkat kemampuan bahasa Inggrisnya menempati rangking teratas, dari skor kemampuan digital, Singapura masih menjadi pemenang di antara negara-negara Asia lainnya.

Data freelancer di Indonesia

Saat pandemi Covid-19 melanda, banyak perusahaan yang memberikan akses bekerja dari rumah untuk para karyawannya. WFH, work from home.

Bagi yang tidak terbiasa, bekerja dari rumah adalah siksaan. Di bawah ini datanya.

mayoritas-karyawan-anggap-wfh-buat-durasi-kerja-lebih-lama-by-katadata
sumber: https://databoks.katadata.co.id/

Dampak bekerja dari rumah yang dirasakan antara lain, bekerja menjadi lebih lama. Terbiasa bekerja di kantor dan di rumah memang mempunyai perbedaan yang signifikan.

Belum terbiasa adalah salah satunya. Terlalu banyak distraksi dan juga tidak adanya kolega untuk diajak bicara masalah pekerjaan.

Seperti yang dibagikan oleh Antara News, Asia Pasifik memiliki ekonomi freelance yang berkembang pesat, dan Singapura memimpin sebagai pasar teratas untuk perekrutan bakat freelance di Asia.

Singapura juga menjadi salah satu dari 10 pasar teratas untuk pekerja freelance secara global. Menurut data yang dirilis dari portal pekerjaan freelance Asia Tenggara, India berada di garis depan dengan 2.369.000 pengguna dan Filipina sebagai pasar yang akan datang dengan 536.000 pengguna. Pasar lain di kawasan ini juga aktif di dunia dengan 412.000 pengguna terlacak di Indonesia; dan 155.000 di Vietnam

Freelancer yang paling banyak di cari adalah freelancer di bidang Desain Grafis, Pemasaran dan Pemrograman Internet.

Hanya ada sekitar 412.000 orang freelancer di Indonesia, dari total penduduknya yang hampir 200 juta jiwa.

Sebagai catatan, di Upwork sendiri, terdapat 17 juta pengguna (freelancer & klien) secara global. Rata-rata, seorang penulis freelance bisa berpenghasilan hingga $24 per jam di Upwork.

Wah,, lebih tinggi daripada hourly rate saya nih hehe…

Menjadi freelancer generalis atau spesialis?

Sistem pendidikan di Indonesia, dari mata kacamata awam seperti saya, dari sejak saya kecil hingga sekarang, titik beratnya adalah menghasilkan lulusan generalis.

Di masa-masa sekolah, anak didik dijejali dengan berbagai macam pelajaran, hapalan, science tapi lupa untuk mengajarkan bagaimana cara berkolaborasi antar teman, bagaimana mendidik karakter anak supaya lebih menghormati ide dan gagasan orang lain, membuang sampah di tempat sampah, berkata-kata dengan baik dan berusaha selalu jujur terutama kepada dirinya sendiri.

IQ (intelligent quotient) masih lebih penting dan berharga daripada EQ (emotional quotient).

Sebagai freelancer di Upwork, saya mengamati bahwa ada banyak perubahan yang dilakukan oleh Upwork sendiri untuk mengupgrade brand serta awarenessnya.

Mulai tahun 2019, Upwork menyeleksi dengan lebih ketat semua freelancer yang ingin bergabung di platformnya. Terutama seleksi dari segi skill (keahlian). Upwork lebih memilih skill yang spesialis daripada generalis.

Akibatnya, banyak orang yang ingin mendaftar dan bergabung di Upwork harus kecewa, terutama untuk mereka yang mempunyai skill generalis dan mendaftar di sekitaran tahun 2019-2020.

Padahal, apakah Anda mengamati bahwa sistem sekolah di Indonesia mencetak orang-orang dengan kemampuan generalis?

Sekolah dan pengaruhnya terhadap karakter dan cara berpikir siswa

https://unsplash.com/photos/N_aihp118p8
sumber gambar https://unsplash.com/photos/N_aihp118p8

Aduh, menulis artikel ini membuat kenangan saya saat masih duduk di bangku sekolah dasar kembali muncul.

Saya termasuk generasi X yang mulai bersekolah dasar di sekitar tahun 1983/1984. Sekolah desa, SD Inpres (instruksi presiden).

Naik ke kelas 3 SD, saya ikut tinggal bersama orang tua dan bersekolah di kota Semarang, Jawa Tengah.

Pindah sekolah ke kota, tidak menjamin kualitas guru menjadi lebih baik ternyata. Masih banyak guru yang membawa penggaris besar saat akan masuk dan mengajar di kelas. Serasa ikut wajib militer di usia belia.

Beberapa pengalaman pahit semasa bersekolah di sekolah dasar adalah:

Ulangan mencongak tiba-tiba

Sudah otak berpikir keras, waktu di batasi, jantung berdebar karena takut salah. Pensil sering mencelat entah kemana karena tangan benar-benar grogi. Itu benar-benar pengalaman suram saat SD. Gak ada bahagia-bahagianya.

Ditertawakan seisi kelas saat bertanya ke guru

Pernah mengalami? Kita beneran belum paham 100% apa yang diterangkan oleh guru. Kemudian sambil takut-takut dan menahan pipis, memberanikan diri tunjuk tangan dan bertanya. Tapi, malah ditertawai seisi kelas. Hanya gara-gara kita tergagap dan terlalu malu sampai salah-salah kata.

Ditertawakan dan diejek guru saat bertanya

Kalau sebelumnya ditertawakan teman sendiri seisi kelas, adakalanya kita yang memberanikan diri untuk bertanya malah diejek dan ditertawakan guru. Mungin karena pertanyaan anak didiknya dianggap terlalu sederhana dibandingkan intelektualitas beliau.

Sedih ya.

Mungkin, hal-hal ini yang membuat banyak anak-anak Indonesia, bahkan orang-orang dewasa Indonesia menjadi apatis, terserah kamu, dan malas untuk mengeluarkan pendapat, apalagi berdebat dengan cara yang benar.

Lha bagaimana lagi, sedari kecil sudah dibully oleh teman sekelas dan gurunya sendiri.

Dipukul penggaris kayu sepanjang 1 meter

Saya masih ingat benar, saat masih SD (lagi) pelajaran saat itu adalah pelajaran matematika.

Guru bertanya dan saya mencoba menjawab. dan ternyata jawaban saya salah.

Hadiahnya? Kepala saya dipukul menggunakan penggaris kayu sepanjang 1 meter. Mungkin tidak benar-benar memukul, tapi mengapa kepala sampai rasanya nyut-nyutan ya? Sakitnya bahkan masih kalah dengan rasa malu yang saya alami saat itu.


you-x-ventures-bzqU01v-G54-unsplash
sumber https://unsplash.com/photos/bzqU01v-G54

Tipe, karakter dan sikap serta sifat guru-guru serta pembelajaran seperti yang saya sebutkan di atas itulah yang menghambat mental anak didik untuk bisa berpikir dan berkreasi lebih bebas.

Sedangkan, sebagai freelancer, kita bukanlah karyawan. Freelancer adalah self employee alias pekerja mandiri.

Pekerja mandiri harus bisa percaya diri dan bebas menentukan tujuan masa depannya sendiri. Mau menghasilkan berapa banyak dolar per bulan atau per tahun? Mau bekerja sama dengan berapa klien? Kalau klien bermasalah, apa yang harus dilakukan?

Apakah sistem pendidikan di Indonesia saat ini kira-kira bisa menghasilkan freelancer-freelancer dengan kemampuan tersebut di atas?

Mau tahu tidak, mengapa Finlandia sering sekali mendapatkan penghargaan sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik? Ini alasannya:

  1. Jam belajar mengajar yang pendek

Di Finlandia, murid-murid belajar hanya 3-4 jam per hari, atau sekitar 20 jam per minggu. Bandingkan dengan Indonesia, murid-murid mulai masuk pukul 7 pagi dan pulang pukul 1 siang. 6 jam per hari, 30 jam per minggu. Belum lagi dengan adanya tambahan PR (pekerjaan rumah) dan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler.

2. Minat dan pilihan siswa

Saya pernah membaca, tidak ada perbedaan gender di Finlandia yang mengkhususkan tipe pekerjaan tertentu untuk gender tertentu.

Sedari sekolah dasar, mereka sudah diberikan kebebasan untuk memilih minat dan bakat. Misalnya, anak laki-laki tidak diharuskan untuk memilih pelajaran teknis. Dia boleh memilih kelas memasak atau merajut misalnya. Demikian pula dengan murid perempuan. Tidak ada pilihan pekerjaan berdasarkan gender tertentu.

Kebebasan memilih minat dan tidak adanya stereotipe tertentu, tentunya menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri yang sangat besar buat anak.

Oh iya, saya mengikuti beberapa kelas menulis antologi. Salah satu kelas antologi yang saya ikuti bertema tentang “Dunia Laut.” Memang kelas ini khusus untuk picbook alias picture book. Khusus buku bacaan anak usia 7 tahunan.

Saya kira, semua anggota grup adalah ibu-ibu seperti saya. Ternyata, ada satu anak berumur 11 tahun yang ikutan juga menulis antologi ini. Homeschooler, sudah menulis sejak umur 8 tahun.

Bangga? Sudah pasti, meskipun tidak mengenal anak tersebut secara pribadi. Tapi saya bisa melihat tingkat percaya dirinya yang sangat besar dan orang tua yang sangat bisa menghargai minat dan keputusan anaknya.

Bandingkan dengan anak-anak lain yang bersekolah secara normal, tapi malah gagap saat di tanya tentang cita-cita.

3. Belajar beberapa kombinasi pelajaran sekaligus

Pada tahun 2015, Finlandia mengubah sistem kurikulum pendidikannya. Dunia pendidikan di Finlandia adalah fleksibel dan tidak kaku dalam mengikuti kebutuhan masyarakatnya. Sehingga tidak ada masalah saat mereka harus mengubah sistem maupun kurikulum yang lebih sesuai dengan jaman.

4. Belajar tanpa stress

Tidak banyak pekerjaan rumah dan ujian yang diberikan oleh guru kepada para siswa. Sehingga hampir tidak ada tekanan untuk menjadi murid dengan rangking teratas, atau harus lebih pandai dari teman-temannya.

5. Kualitas guru terbaik

Hanya sekitar 1 dari 10 pelamar yang diterima menjadi guru di Finlandia. Sehingga hanya guru-guru yang sangat berkualitaslah yang mempunyai ijin untuk mengajar.

Seandainya saya menjadi pemimpin, ini yang akan saya lakukan untuk Indonesia

Saya sangat sadar diri bahwa tidaklah baik membandingkan negara sendiri dengan negara orang lain. Tapi, demi kebaikan kita sendiri dan generasi masa datang, tidaklah aib bila kita sedikit memperbandingkan. Bukankah generasi kita harus bisa mempersiapkan apapun yang terbaik untuk generasi masa depan?

Beberapa hal yang sangat ingin saya lakukan di bidang pendidikan antara lain:

Standarisasi kualifikasi guru untuk keahlian tertentu.

Hanya guru yang mempunyai kualifikasi dan sertifikasi di mata pelajaran A yang bisa dan diperbolehkan mengajar mata pelajaran khusus A.

Pendampingan selama kurang lebih satu tahun dari Dinas Pendidikan sebelum guru diperbolehkan untuk mengajar secara lepas.

Jam pelajaran yang tidak terlalu padat.

Khususnya untuk siswa sekolah dasar. Hanya 3-4 jam saja per hari dan itupun lebih banyak kegiatan bermain serta aktivitas fisik. Bukan menulis atau menghapal.

Menghapus stereotipe bahwa anak umur sekian sudah harus bisa membaca atau menulis.

Setiap anak adalah istimewa. Kemampuan membaca dan menulis bukan satu-satunya hal penting yang harus menjadi patokan bahwa seorang anak sudah layak atau belum layak untuk menjadi seorang siswa.

Lebih banyak memberikan pelajaran mendongeng untuk anak-anak usia PAUD dan sekolah dasar.

Mengapa? Supaya imajinasi mereka bisa berkembang dengan lebih bebas. Kreativitas, adalah salah satu skill yang paling diperlukan. Sebagai pembeda dengan yang lain. Dan itu bisa dipupuk dengan cara yang benar.

Tidak terlalu banyak menjejali anak dengan kegiatan ekstra. Biarkan anak bebas memilih.

Seleksi karakter guru.

Selain sertifikasi keahlian khusus, guru juga harus dipilih berdasarkan karakternya.

Bagaimanapun, anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Kurang lebih 16 tahun dari mulai SD sampai perguruan tinggi. Apa jadinya anak kita kalau selalu bertemu dengan guru dan pengajar yang miskin karakter?

Buku pelajaran dan resources sistem online digital.

Saya tidak habis pikir, setiap tahun pelajaran baru, orang tua diharuskan membeli buku baru. Dengan isi yang sama, hanya beda pengarang dan penerbit saja. Konyol gak sih?

Meskipun konyol dan tidak masuk akal, kita harus patuh karena demikianlah sistem pendidikan yang ada di negara kita.

Apakah tidak pernah terpikir untuk tidak selalu berorientasi ke “uang” tapi lebih benar-benar fokus demi kepentingan anak didik?

Penting tidak sih untuk membeli buku pelajaran tiap tahun? Selain boros uang, juga boros kertas. Tidak heran, hutan di indonesia cepat sekali gundul sehingga banyak menyebabkan bencana alam yang terjadi.

Akan lebih baik kalau buku pelajaran cetak, di ganti dengan digital. Lebih mudah di baca, tahan lama, hemat, tidak berat membebani tas sekolah anak. Bisa di print-out sesuai lebutuhan dan pelajaran.

Memperbanyak sekolah-sekolah negeri dan swasta, terutama di luar pulau Jawa.

Pengalaman saya pribadi, di kota Palangkaraya tempat kami tinggal, jumlah sekolah yang ada sangat tidak sesuai dengan jumlah peserta didik.

Di bawah ini data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalteng:

jumlah sekolah, murid dan guru sd kalimantan tengah
jumlah sekolah, murid dan guru SD provinsi kalimantan tengah 2016/2017

Perbaikan kualitas mental guru.

Tidak perlu menutup mata, masih terdapat banyak guru dan kepala sekolah yang menerima titipan supaya seorang murid bisa diterima di sekolah tersebut, beli kursi istilahnya.

Bahkan anak saya pernah mengalami hal ini. Dengan nilai yang baik serta jarak sekolah dan rumah yang tidak melebihi zonasi, dia harus menerima kenyataan pahit untuk tidak bisa masuk ke SMA yang dituju.

Ada banyak anak-anak dari luar kota sebagai gantinya, yang namanya terpampang di daftar pengumuman penerimaan murid baru..

Tentu saja, sebagai orang tua saya tidak terima. Saya melaporkan hal tersebut ke Ombudsman Palangkaraya untuk memproses keberatan saya.

Dengan bisik-bisik ketakutan, sang kepala sekolah mau menemui kami setelah sebelumnya di mediasi dari Ombudsman. Dan anak kami akhirnya mendapat haknya untuk diterima di SMA tersebut.

Kecewa? Tentu saja saya sangat kecewa dengan mentalitas dan karakter pendidik yang sangat tidak manusiawi dan tidak berkarakter tersebut.

Menyingkirkan hak dan impian seorang anak demi sejumlah rupiah.

Lebih banyak praktek on hand daripada teori menghapal.

Banyak mahasiswa fresh graduate yang bahkan tidak mengerti bagaimana cara mengoperasikan komputer. Atau, bagaimana cara membuat produk digital.

Bahkan, banyak lapangan kerja yang kebingungan mencari pegawai atau karyawan, dikarenakan kualitas lulusan fresh graduate yang tidak memiliki keahlian atau skill di lapangan.

Bukankah kita harus mengubah sistem pendidikan yang seperi ini menjadi lebih baik lagi?

Bersaing dengan kawan sendiri dan di kandang sendiri saja masih kalah, apalagi bersaing secara global.


Kesimpulan

Benar bahwa kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak tertentu. Harus ada mental yang kuat dan karakter yang mempunyai prinsip, terutama peran generasi muda sekarang, yang bisa memutus mata rantai sampah yang ada di negeri ini.

Kalau tidak di mulai dari sekarang, kapan lagi wajah pendidikan di Indonesia bisa kembali berseri?

Kapan lagi, mahasiswa-mahasiswa dari negara tetangga mau mengenyam pendidikan di sini seperti masa Bung Karno dulu.

Sumber dan referensi

Wikipedia

Badan Pusat Statistik

Kata Data

https://ddiy.co

https://id.theasianparent.com/

4 komentar untuk “Freelancer dan Sistem Pendidikan di Indonesia”

  1. Rahayu Pawitri

    Aku setuju dengan dirimu mbak, kita susah maju, karena malu. Siap-siap dianggap aneh, kalau pengen maju.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top