Tidak Ada yang Memberitahumu Tentang 5 Hal Ini Saat Kamu Memutuskan Menjadi Freelancer

Pernah gak sih, ada seseorang yang memberitahu kamu, apa saja, entah itu nasihat, kritik, masukan saat kamu memutuskan untuk menjadi freelancer ?



Sebelum menjadi freelancer di Upwork, dulu banget, 10 tahun lalu, saya pernah bekerja sebagai marketing dan sales freelance di perusahaan mebel/funiture.
Saat itu, pertanyaan yang paling sering yang di tanyakan oleh ibuk dan suami saya adalah "bayarane piye?"
Bagaimana sistem pembayarannya karena kan tidak ada gaji pokok atau tunjangan apalah. Bener-bener pendapatan yang akan saya terima adalah berdasarkan komisi.

Nyatanya saya bertahan hampir 10 tahun di perusahaan tersebut. Ibarat kata, orang-orang di perusahaan tersebut sudah menjadi keluarga kedua bagisaya.



Saat kemudian saya menjadi freelancer di Upwork, pertanyaan tersebut malah tidak muncul sama sekali. Yang sering muncul di awal saya kerja di Upwork adalah "bagaimana cara mendapatkan klien pertama saya ?"
Udah ini aja. Titik.

Tapi tau gak sih, menjadi freelancer dan menjadi bos atas diri sendiri itu ada enaknya dan banyak tidak enaknya haha (percayalah).

Melihat lagi ke belakang 1 tahun yang lalu, memutuskan bekerja via Upwork itu ibarat orang gak bisa berenang tapi memberanikan nyemplung ke kolam renang. Seperti itulah saya, satu tahun yang lalu. Sama sekali tidak tahu apa-apa sistem Upwork, tidak tahu bagaimana mematok harga service dll.

Gak heran, saya banyak menerima inbox, wa dari teman-teman, yang sesudah membaca artikel saya tentang Upwork, kemudian ingin register dan belum tau bagaimana caranya bisa lolos verifikasi. Seneng bisa membantu dan berguna buat orang lain ^^

Banyak juga, hal-hal yang tidak akan kamu ketahui dari orang lain (semoga bukan saya) saat kamu memutuskan menjadi freelancer.

Ini 5 di antaranya :

1. Pekerjaan yang tidak bisa selesai dalam sehari
Ini benar, job-job yang saya terima semuanya tidak ada yang bisa selesai dalam sehari. baik itu job hourly rate (apalagi ini) maupun fixed rate. Belum lagi pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang harus di selesaikan juga.

Seringkali saat stuck atau mood lagi jelek, saya gak ngapa-ngapain seharian haha...tidur atau creambath atau nonton drakor. Tambah gak selesai kerjaannya dong ya...

2. Sulit saat harus pasang harga

Photo by NeONBRAND on Unsplash

Saat bekerja di perusahaan furniture dulu saya gak harus repot menghitung harga jual produk karena semua sudah ada yang mengerjakan. Jatah job saya hanya jualan, titik.

Nah saat bekerja di Upwork, saya bingung bagaimana menentukan harga service saya, yang wajar, sesuai skill, tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Berapa kira-kira baiknya per jam, atau kalau fixed rate berapa harga yang wajar.

Beberapa cara yang bisa di lakukan sebelum pasang harga service di Upwork adalah :

  • Research harga profile sesuai skill. Maksud saya, freelancer di Upwork kan ada puluhan ribu banyak banget tuh. Intip aja profile-profile yang sama dengan skill yang kamu tawarkan. Misal skill yang saya pajang di Upwork adalah sebagai virtual assistant. Dulu saya research juga, ada yang paling murah harganya $3 per jam, ada yang tertinggi $50 per jam. Nah bandingkan skill dan portfolio antara yang teritinggi dan terendah, lalu tanya diri kamu sendiri, kamu ada di mana berdasarkan skill, experience dan portfolio yang kamu miliki. 
  • Hitung berapa pengeluaran kamu sebulan. Sederhanaya, kita kerja kan untuk bisa memenuhi kebutuhan (bulan demi bulan ^^ ). Kebutuhan orang berbeda-beda setiap bulannya dong. Ada yang sejuta rupiah perbulan udah cukup, ada yang 10 juta rupiah tidak cukup. Buat saya pribadi, hal-hal yang harus di masukkan adalah bayar indihome, bayar kartu kredit, jajan dan belanja serta invetasi. Misal kata sebulan saya butuh 10 juta di bagi dengan berapa waktu yang saya bisa untuk bekerja selama satu bulan. Misalkan per hari saya bisa kerja 5 jam, sebulan saya bisa kerja 125 jam. Gampangnya, harga saya adalah 10 juta di bagi 90 jam. Maka per jamnya saya harus dapat kurleb 80.000 yang kalau di kurskan di $$ sekitar $6 per jam. Begitu

3. Semua tidak bisa di kerjakan sendiri
Adakalanya, klien meminta selain outreach, juga penulisan artikel. Saya tidak mungkin menulis artikel dalam bahasa inggris, karena saya tidak bisa haha. Lalu saya harus cari sub cont ke projects.co.id atau sub cont lainnya.
Semua bisa di kerjakan sendiri ? nonsense

4. Teman dan keluarga mungkin menganggapmu tidak bekerja

H A H !
Lha kan memang masuk akal, karena apa ? Mindset orang-orang terutama di Indonesia, kalau kerja ya harus ngantor, ada kantor yang dituju, berangkat jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Gajian tiap akhir atau awal bulan.

Banyak dari mereka pikir, halah, paling cuma pengangguran yang bisanya tiap hari duduk di depan komputer, sok sibuk, tidak menghasilkan uang blah blah blah....

Agak sulit untuk meyakinkan mereka bahwa bekerja juga bisa di lakukan dari rumah. Tapi, i don't care what they think haaha

5. Kesepian
Photo by Nik MacMillan on Unsplash

Ini sih berhubungan dengan #1 di atas. Kalau kita bekerja di kantor, kita bisa kerja bareng teman sekantor, makan siang bareng, gosip bareng, bahkan makan di luar bareng. Ada teman lah pokoknya, meski bukan sahabat.

Tapi....tau sendiri dong kalau di rumah, kerja di rumah gak ada temennya. Gak ada yang bisa di ajak curhat tentang pekerjaan atau gosipin siapa kek. Garing ^^
Sisi postifnya, kita bisa lebih produktif kalau bekerja sendirian.

Bagaimana menurut pendapat kamu ?

No comments

Please comment here :