3 Kesalahan Freelancer dalam Mengelola Keuangan


Photo by James McDonald on Unsplash

Sudah hampir 15 tahun saya bekerja sebagai karyawan, dulu sebelum pindah ke kota tempat tinggal saya sekarang. Kalau ada yang bertanya (mungkin) pilih kerja kantoran atau freelancer, sekarang sih lebih pilih bekerja freelancer. Ya kali soalnya di kota ini gak ada pabrik atau perusahaan sama sekali ^^

Kebanyakan penduduk di kota ini berprofesi sebagai PNS dan pedagang. Meskipun ada perusahaan macam perusahaan kelapa sawit, lokasinya nun jauh di sana di area hutan di Kalimantan.

Terus terang, saya sering blong alias dodol banget dalam hal manajemen keuangan. Dulu, gajian selalu habis dan sama sekali tidak pernah punya tabungan, apalagi investasi. Mungkin juga karena gajinya mepet kali ya haha... ya iyalah kalau gajinya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan primer, apa yang akan di tabung, ya kan ??

Photo by rawpixel on Unsplash

Anehnya, atau lebih ke syukurnya, setelah saya bekerja sebagai freelancer, penghasilan saya per bulan sekarang ini malah lebih besar dari pada saat bekerja sebagai karyawan dulu. Bisa di 3 sampai 5 kali lipat kalau saya bandingkan.

Nah, baru kali ini saya bisa mulai menyisihkan uang untuk berinvestasi. Saya memilih investasi di pasar saham dan reksadana. Maunya juga investasi diamond gitu... hahahh banyak mau.

Mungkin banyak orang melihat dan menilai freelancer itu pekerjaan paling enak sedunia. Gak harus berangkat ngantor karena pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, gak harus pakai pakaian rapi atau seragam karena toh pakai kolor juga bisa kerja, gak ada uang terbuang untuk beli bensin, bisa nemenin anak-anak di rumah, waktu yang sangat fleksibel dll dll.

Tapi jangan salah, bekerja sebagai freelencer juga banyak gak enaknya loh, wong saya mengalami sendiri. Apa sih gak enaknya ? ya kalau pas job lancar sih gak masalah, dollar mengalir dengan tenang. Tapi kalau gak ada job, artinya gak ada duit juga. Beda dengan karyawan, ada kerjaan gak ada kerjaan, sebagai karyawan, perusahaan wajib menjamin gaji tepat waktu, betul atau betul ?

Sebagai karyawan, mood enak atau tidak enak tetap harus berangkat kerja, freelancer lain lagi. Sering loh, pas mood saya jelek terus saya jadi males kerja. Yang harusnya sehari bisa dapat sekian dollar, blong. Karena gak ada yang mengawasi juga, gak ada yang ngomel juga kalau saya gak kerja haha. Terlalu merdeka yang kalau keterlaluan bisa menjerumuskan ^^

So, menjadi freelancer haruslah punya tanggung jawab yang besar. Kepada siapa ? Kepada diri sendiri dulu lah. Kadang-kadang nih, dari 5 hari kerja seminggu, sehari atau 2 hari saya bisa males banget kerja. Meskipun tetep cari job baru sih, biar ada efek penyegaran.

Sialnya, sebagai freelancer gak boleh menggantung hati di salah satu klien. Maksud saya, jangan terlalu berharap kita akan kerja terus bareng klien tersebut. Karena suatu saat, ada saatnya kontrak harus berakhir. Meskipun kita pengen terus bekerja sama dia, kayaknya dianya yang gak mau kerja terus bareng kita haha...Iyalah, kan bukan pegawai tetap, pegawai kontrak ^^^
Jadi, saran saya, anggap semua klien sebagai klien, jangan sebagai teman. Kalau tidak kau akan menderita ^^

Seperti yang saya bilang di atas, saya bodoh banget dalam hal manajemen keuangan. Soalnya gini, kalau ada uang nih, ehh pengen jajan, cuzz langsung jajan. Dan itu dalam 30 hari bisa hitungan 25 hari saya makan di luar, meskipun di rumah masak juga. Yang mana pasti membuat pengeluaran saya bengkak sebengkak-bengkaknya pakai banget. Ini godaan yang saya susah saya tahan.

Kalau macam diskon sepatu, tas atau baju sih enggak terlalu yaa. Paling pas ada diskon 50% atau saya pas seneng banget, lucuk gitu, baru saya beli. Kadang- kadang sebulan beli 3 pasang sepatu, bulan berikutnya stop. Bulan ini beli sweater setengah lusin bulan berikutnya stop, gitu.

Photo by rawpixel on Unsplash

Setelah saya nyebur di dunia freelancer selama 1 tahun ini, ternyata ada banyak kesalahan-kesalahan yang pada umumnya di lakukan oleh freelancer loh,termasuk saya juga hehehe.

Saya ambil 3 saja :

1. Tidak ada catatan pemasukan dan pengeluaran uang

Seringkali kita tidak sadar, pengeluaran receh-receh dan remeh gitu kalau di total akhirnya bisa jadi banyak loh. Misal, ngopi di warkop, beli hotdog, wedang ronde. Nilainya sih paling 10-50 ribuan per hari, tapi kalau jajannya gila kayak saya, sebulan di total bisa sampai 1 jutaan loh. Kan mayan nih bisa buat investasi.

Maka dari itu, mulai 6 bulan yang lalu, saya membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana di google sheet, biar bisa di buka di komputer mana saja di rumah. Jadi saya bisa tau, bulan ini saya boros di beli baju atau jajan atau bayar karu kredit atau malah terlalu banyak investasi (gak mungkin hehehe).

Jadi misalnya minggu kemarin saya sudah banyak keluar untuk beli skincare, ya minggu-minggu selanjutnya harus stop dulu. Gitu deh, jadi bisa kelihatan mana pengeluaran yang bisa di pending atau di stop. Mana yang prioritas mana yang tidak.

2. Tidak mempunyai asuransi
Meskipun tidak bekerja, sebaiknya kita tetap harus mempunyai asuransi. Apalagi kalau kita bekerja yang artinya ada risiko apabila kita mengalami sesuatu (kecelakaan atau apapun) yang menyebabkan kita tidak bisa bekerja sehingga tidak bisa menghasilkan uang.

Saya lebih memilih asuransi murni (baik asuransi jiwa maupun asuransi kesehatan) karena preminya bisa di pastikan lebih murah kalau di bandingkan dengan unit link, dengan manfaat pertanggungan yang kurang lebih sama. Meskipun tetap ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Selama kita masih bisa menghasilkan uang, sisishkan beberapa persen untuk membayar asuransi, demi kemanan dan kenyamanan diri sendiri.

Amit-amit kita sakit, ada asuransi yang bisa membantu, jadi pengeluaran kita atau pengeluaran keluarga tidak terlalu besar.

3. Tidak mempunyai dana pensiun

Usia saya sekarang sudah 40 tahun. Tidak mungkin saya bekerja terus saat umur saya nanti 55 atau 60 tahun. Otak dan tenaga pasti sudah tidak kinclong lagi seperti saat masih muda.

Mumpung masih muda, sisihkan pendapatan untuk dana pensiun. Ada beberapa bank yang membuka tabungan khusus untuk dana pensiun, sepertinya BPJS juga ya. Dengan ketentuan setoran tabungan sejumlah tertentu dan selalu tetap jumlahnya dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan.

Saya pribadi, karena dana pensiun ini mungkin akan di gunakan 15-20 tahun lagi, saya lebih memilih untuk berinvestasi di pasar saham dan reksadana saham. meskipun risikonya tinggi, imbal hasil yang di dapat juga sepadan.

Jadi, ayo para freelancer, kita mengelola keuangan dengan baik dan benar !

No comments

Please comment here :