Sukanto Tanoto Berbisnis Bermodal Tekad | Indri Ariadna

Top Social

Sukanto Tanoto Berbisnis Bermodal Tekad

7/28/2017


Banyak orang yang bermimpi menjadi pengusaha. Namun, ada saja yang tidak segera memulainya. Ada beragam alasan yang menghalangi. Mulai dari modal yang tidak dimiliki hingga minimnya keterampilan. Padahal, ada contoh dari pengusaha Sukanto Tanoto yang sukses hanya dengan bermodal tekad kuat.


Sukanto Tanoto adalah pendiri grup Royal Golden Eagle. Perusahaannya ini merupakan korporasi skala internasional dengan aset senilai 15 miliar dollar Amerika Serikat. Hingga kini, Royal Golden Eagle sudah mampu mempekerjakan karyawan hingga 50 ribu orang lebih di berbagai belahan dunia.
Berkat kiprahnya di bidang bisnis, Sukanto Tanoto mendapat sebutan sebagai Raja Sumber Daya. Hal tersebut sekaligus menggambarkan bidang operasi Royal Golden Eagle yang banyak berkecimpung dalam pemanfaatan sumber daya alam. Lihat saja, berbagai perusahaan di bawah naungan Royal Golden Eagle ada yang bergerak di industri kelapa sawit, kayu lapis, hingga pulp and paper.

Meski begitu, varian bisnis yang digeluti Sukanto Tanoto tidak melulu dalam bidang sumber daya alam. Belakangan perusahaannya juga terjun ke bidang energi. Salah satunya dengan membuat perusahaan gas alam di Kanada. Selain itu, ada pula bisnisnya di serat viscose yang ada di Finlandia.

Melihat ragam usaha Sukanto Tanoto, mungkin Anda membayangkan ia adalah orang yang punya modal dana besar, memiliki keterampilan tinggi di semua bidang yang ditekuninya. Padahal, awalnya tidak seperti itu.

Sukanto Tanoto bahkan tidak memulai usahanya dengan dana berlimpah. Ia hanya berasal dari keluarga bersahaja di Belawan. Bahkan, dalam usia 17 tahun, sang ayah sakit sehingga ia harus putus sekolah dan meneruskan usaha keluarga.

Kala itu, Sukanto Tanoto mengelola usaha keluarganya yang berjualan minyak, bensin, dan onderdil kendaraan. Bisnis keluarga itu dilakukan di sebuah rumah toko sederhana di Kota Medan dengan bangunan yang terdiri dari dua lantai. Bagian bawah merupakan tempat usaha dan Sukanto Tanoto mesti tinggal di area atas.

Dari sinilah “modal” yang dimilikinya terbentuk. Sukanto Tanoto ternyata hanya bermodalkan tekad dan kemauan untuk belajar. Lihat saja, sejak pertama mengelola usaha, ia menjalaninya dengan otodidak. Tidak ada yang mengajarinya atau malah sudah dipahaminya lebih dulu.

Hal ini terlihat ketika Sukanto Tanoto mulai mengembangkan usaha pribadinya. Dulu ia mendapat kesempatan untuk mendirikan bisnis supplier perminyakan dan kontraktor umum. Tanpa pikir panjang, peluang itu segera diambilnya. Padahal, ia tidak tahu seluk-beluknya sama sekali. “Iya, saya mau-mau saja karena masih muda,” ujarnya.

Sukanto Tanoto akhirnya mulai usaha membangun rumah, memasang AC, pipa, hingga mengimpor traktor. Bahkan, ia juga sempat membangun sebuah lapangan golf. Kebanyakan pekerjaan itu dilakukan di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.

Semua pekerjaan itu merupakan bidang baru bagi Sukanto Tanoto. Namun, ia tidak takut. Sukanto Tanoto mau menerima tantangan. Untuk menghadapinya, ia banyak belajar dari berbagai pihak dan tak pernah malu untuk bertanya. Misalnya untuk memahami seluk-beluk AC, Sukanto Tanoto tak sungkan bertanya kepada para teknisinya.

Pola pikir seperti itu belakangan dirasanya bermanfaat besar bagi perjalanan bisnisnya ke depan. “Itulah technical school saya,” ucap Sukanto Tanoto.

TERUS BELAJAR
Sukses di bidang supplier perminyakan dan general contractor ternyata tidak membuat Sukanto Tanoto berpuas diri. Ia masih ingin lebih. Lagi-lagi Sukanto Tanoto memperlihatkan kelebihannya, yakni bisa memutar bisnis dengan model tekad baja.

Hal ini pertama kali diperlihatkan ketika ia mendirikan perusahaan kayu lapis. Kala itu, ia tahu persis bahwa orang Indonesia sedang kesulitan mencari kayu lapis. Untuk mendapatkannya harus diimpor.

Sukanto Tanoto merasa hal itu aneh. Pasalnya, negeri kita dikaruniai dengan lahan yang luas. Banyak area yang bisa dimanfaatkan untuk menanam pohon sebagai bahan baku kayu lapis. Kebetulan iklim di Indonesia adalah tropis dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun. Ini membuat pepohonan bisa terus tumbuh tanpa kenal musim.

Berangkat dari hal tersebut, Sukanto Tanoto tergerak untuk mendirikan perusahaan kayu lapis. Padahal, belum ada pihak lain yang melakukannya di Indonesia. Selain itu, Sukanto Tanoto juga tidak paham bidang tersebut sama sekali.

Namun, tekad keras membuat dia mau belajar untuk mengenal cara pengelolaan bisnis kayu lapis. Hasilnya, perusahaannya berkembang pesat. Dalam kondisi seperti itu, Sukanto Tanoto bukannya beristirahat. Salah besar, karena lagi-lagi ia menantang dirinya sekali lagi.

Kali ini, Sukanto Tanoto terjun ke bidang kelapa sawit. Semua berawal dari kunjungannya ke luar negeri. Ia melihat banyak perkebunan kelapa sawit yang hasilnya bisa dijadikan bahan komoditi apa pun. Hal ini mengusiknya untuk membuat hal serupa. Apalagi ia tahu potensi pasar di Indonesia sangat besar.

Maka, Sukanto Tanoto segera mendirikan perusahaan kelapa sawit. Sama seperti perusahaan-perusahaan sebelumnya, ia tidak paham sama sekali pengelolaan industri crude palm oil. Namun, Sukanto Tanoto tidak gentar. Ia malah menjadikannya sebagai sarana untuk bisa belajar.

Lagi-lagi, prinsip tersebut menghadirkan kesuksesan baginya. Perusahaan kelapa sawitnya berkembang pesat dan ketika sudah dirasa mapan, ia mulai lagi merintis bidang bisnis baru sembari belajar. Sukanto Tanoto kemudian mendirikan perusahaan pulp and paper hingga terjun ke bisnis energi. Sama seperti yang lain, ia tak pernah menguasainya sama sekali. Hanya kemauan keras untuk mempelajari yang menjadi andalan.

MENJADI KUNCI SUKSES
Tekad keras untuk belajar akhirnya menjadi prinsip yang dipegang Sukanto Tanoto secara teguh. Inilah yang disebutnya sebagai salah satu trik suksesnya dalam mengelola perusahaan.

Kalau di bisnis, kunci sukses saya adalah think, act, learn, baca, dengar, lihat,” katanya. “Kedua, kalau saya tidak tahu, saya mau bertanya. Saya juga tidak merasa sungkan menceritakan kegagalan saya,” ujarnya lagi.

Oleh karena itu, Sukanto Tanoto tidak pernah berhenti mencari ilmu. Ia rajin membaca berbagai buku. Hal itu sering dilakukannya kala berpergian dalam urusan bisnis. Ia selalu mencari waktu untuk bisa membaca buku. “Kalau sedang dalam perjalanan, jika tidak tidur, saya pasti baca buku,” kata Sukanto Tanoto.

Selain itu, Sukanto Tanoto juga terus mau menambah ilmu di pendidikan formal. Ia menghadiri beberapa perkuliahan bisnis untuk meningkatkan ilmunya. Ia tidak merasa dirinya terlalu tua atau tidak punya waktu. Terlihat jelas tekadnya yang besar untuk maju. Dengan berseloroh, ia menyatakan dirinya sebagai pelajar.  “Karier saya satu lagi yakni siswa profesional abadi,” ujar pria kelahiran 25 Desember 1949 ini.

Terus mau belajar sepanjang waktu adalah bukti tekad keras yang dimiliki oleh Sukanto Tanoto. Tidak mungkin seseorang memilikinya jika tidak punya komitmen yang kuat. Inilah yang ternyata menjadi modalnya untuk menapaki karier sebagai pengusaha papan atas di Indonesia.

Para pebisnis bisa mengikuti trik kesuksesannya. Tidak perlu takut untuk melangkah. Jika tidak paham, Anda bisa mempelajarinya atau bertanya ke pihak lain. Ketika ada kesulitan, jangan mudah menyerah. Selalu berpikir untuk maju agar segala rintangan yang menghalangi bisa dilewati dengan baik. Mau mencobanya?
Post Comment
Post a Comment

Please comment here :

Auto Post Signature