Top Social

Investasi vs Menabung

7/06/2017
Masih ingatkah ada pepatah ,”Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau lagu oma Titiek Puspa yang mengajarkan tentang menabung ? Yang salah satu liriknya begini nih : bang bing bung yukk kita nabung. Bang bing bang yukkk kita ke bank….generasi 80 dan 90-an pasti masih ingat (maksa).

Nah, ibu saya dulu juga selalu mengingatkan, terutama kalau anak gadisnya habis gajian, ibu bilang kalau ada uang di tabung, jangan beli baju terus, jangan jajan terus hahaha..
Syukur-syukur bisa ambil rumah sendiri sebelum menikah. Keinginan orangtua pasti mulia yaa...
Iya sih, jeleknya saya, kalau sudah ada uang di dompet, rasanya ingin belanja terus. Saya orangnya memang boros. Jangan di tiru. 

Tapi apakah pernah berpikir, sebenarnya tujuan menabung uang itu untuk apa sih ? Apakah dengan menabung, uang kita akan bertambah banyak dan kita menjadi kaya ? 
Kalau saya pribadi, mempunyai rekening tabungan di bank hanya untuk memudahkan lalu lintas transaksi keuangan saja. Bukan untuk menyimpan uang selama mungkin dan menunggunya menjadi bukit uang karena itu tidak mungkin.
Kok bisa tidak mungkin ? Pernah tidak memperhatikan printout buku tabungan ? Pasti ada keterangan kredit atau juga penambahan sedikit nominal tertentu untuk “bunga” dan pengurangan atau debet beberapa rupiah (yang lumayan jumlahnya) untuk biaya administrasi bulanan, biaya pajak atas bunga dan lain-lain yang total jumlahnya bahkan lebih besar dari bunga tabungan yang kita dapatkan.

Bahkan tidak mungkin, kalau kita mempunyai sejumlah uang mengendap di rekening tabungan (mengendap = tidak di tambah dan tidak di tarik alias di biarkan saja) maka uang tersebut akan habis karena di gunakan untuk membayar biaya administrasi bank.

Jadi, punya rekening tabungan itu perlu atau tidak perlu ? Perlu banget tapi hanya untuk lalu lintas transaksi dan juga untuk menyimpan dana darurat selama 3 sampai 6 bulan. Ini kalau saya loh ya. 

Dana darurat adalah jumlah dana yang besarnya sesuai dengan pengeluaran untuk hidup selama per bulan. Jadi, apabila satu saat kita di PHK (misal sebagai karyawan) atau bisnis kita sedang lesu (amit-amit), kita masih bisa membiayai pengeluaran keluarga selama jangka waktu tertentu karena kita masih mempunyai dana darurat di rekening bank.

Selain untuk dana darurat, rekening di bank juga perlu untuk kelancaran transaksi keuangan. Contohnya, saya sebagai blogger, menerima pembayaran dari klien melalui transfer bank. Membeli pulsa, membayar listrik, membayar BPJS, membayar asuransi, membayar kartu kredit juga membutuhkan rekening bank.

Satu hal yang bagi saya pribadi tidak bisa di campur aduk adalah saya tidak bisa berinvestasi dengan cara menabung. Maksudnya, saya tidak bisa mengharapkan uang saya di rekening tabungan beranak pinak.

Investasi ? Apa itu investasi ? Apakah berbeda dengan menabung ? Baca juga : Only Saving Is Not Enough

Tentu saja berbeda. Menabung adalah menyimpan sejumlah uang di bank sementara investasi adalah menempatkan sejumlah uang atau dana dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan. Pernah membaca buku Rich Dad Poor Dad ? Belum ? Silahkan membaca dulu ^^
Beberapa poin penting di buku ini adalah tentang bagaimana uang bisa bekerja untuk kita. Bukan kita yang bekerja untuk mendapatkan uang. Keren kan ? 

Saya mempunyai analogi sederhana seperti ini nih:

Saya mempunyai beberapa ayam jantan dan betina yang saya pelihara. Ayam-ayam ini adalah modal awal saya beternak.
Karena saya memelihara ayam-ayam ini dengan baik, setiap hari ayam-ayam betina bertelur. Dari semua telur yang di hasilkan, ada beberapa telur yang saya ceplok mata sapi untuk sarapan, ada yang saya eramkan supaya bisa menghasilkan anak-anak ayam, ada yang saya jual kepada penjual jamu.

So, selain saya masih mempunyai indukan ayam, saya mendapat beberapa manfaat lain yaitu uang hasil penjualan telur, anak-anak ayam dan juga telur mata sapi yang saya konsumsi.

Kemudian, anak-anak ayam tersebut menghasilkan telur-telur lagi yang jumlahnya akan lebih banyak karena indukan ayam yang pertama juga masih menghasilkan telur bukan ?

Demikian analogi sederhana tentang investasi. Dan tentunya, kita tidak bisa mendapatkan hasil investasi yang maksimal kalau hanya mengendapkan uang kita di tabungan di bank, apalagi kalau di selipin di bawah bantal hehehe.. .

Untuk investasi, banyak sarana atau alat yang bisa kita pilih sesuai dengan jumlah uang yang kita punyai untuk investasi dan juga seberapa besar kita bisa dan mampu menanggung risiko. 

Apakah ibu rumah tangga juga boleh dan bisa berinvestasi ? Bisa dan boleh dong,,,reksadana sangat terjangkau loh untuk ibu-ibu rumah tangga. Investasi untuk ibu rumah tangga.

Seperti analogi ayam di atas, satu hari pastinya akan ada masa tidak semua telur menetas dengan baik. Bahkan mungkin ayam-ayam kita terserang penyakit dan mati. Inilah yang di namakan risiko. Seberapa besar kita bisa menanggung risiko yang mungkin terjadi.

Beberapa pilihan sarana investasi adalah :

1. Deposito
2. Obligasi
3. Reksadana
4. Saham

Masing-masing dari pilihan investasi tersebut mempunyai imbal hasil yang berbanding lurus dengan risiko.

Deposito merupakan pilihan investasi paling aman, karena di jamin oleh pemerintah hingga jumlah tertentu. Berapa imbal hasil deposito ? Sekarang berkisar antara 5% per tahun. Jadi kalau kita menyimpan deposito di bank sejumlah 10 juta rupiah selama satu tahun, maka satu tahun kemudian kita akan memperoleh 10.500.000 rupiah belum di potong pajak.

Deposito sudah pernah punya, dulu….sekarang gak tertarik lagi nyimpen uang di deposito.

Obligasi atau surat hutang. Bisa di keluarkan oleh perusahaan yang ingin menambah modal dan juga di keluarkan oleh negara. Pernah mendengar ORI ? atau SUN ?(surat utang negara)
Obligasi terutama yang di keluarkan oleh negara menjamin pengembalian modal di setor dan juga bunga yang di bayarkan setiap bulan.

Saya pribadi belum pernah punya obligasi karena memang tidak pernah di tawari oleh pihak bank selaku penjual obligasi. Padahal suami punya 2 rekening bank BUMN loh. Tapi ya gapapa lah. Karena obligasi belinya tidak bisa ketengan alias eceran, harus minimal 10 juta atau 15 juta, itu sih yang pernah saya dengar.

Reksadana, salah satu cara berinvestasi yang mudah dan juga murah. Mengapa ? Karena reksadana di kelola oleh manajer investasi yang tentunya sudah berpengalaman. Pun, kita bisa membeli atau berinvestasi di reksadana mulai dari nominal 100 ribu atau 200 ribu rupiah saja. Terjangkau kan ?

Suami sudah 3 tahun ini mempunyai investasi reksadana saham syariah di Manulife. Itu juga atas anjuran saya dulu (bangga dikit wkwkwk) karena per bulan dia bisa menyisihkan 1 sampai 2 juta. Kan mayan ya mak daripada di tabung mending masuk ke reksadana.

Banyak sekali perusahaan sekuritas dan manajer investasi yang bisa kita pilih, tentu saja untuk membandingkan kinerja masing-masing ya. Pilih yang benar-benar cocok.

Saham, merupakan investasi dengan risiko tertinggi di antara yang lain. Mengapa risikonya tertinggi ? Karena, dengan imbal hasil yang tinggi maka akan berbanding lurus dengan risiko yang kita dapat.

Dengan membeli saham, kita mempunyai hak kepemilikan atas perusahaan yang sahamnya kita beli.
Contoh : saya membeli saham perusahaan PT Iga Rawon sejumlah 100 lot (10.000 lembar karena 1 lot = 100 lembar) maka saya mempunyai hak atas laba rugi perusahaan tersebut sesuai dengan jumlah saham yang saya miliki.

Nahh, sejak bulan Februari tahun ini saya ikut sekolah pasar modal di Palangkaraya Kalteng yang di selenggarakan oleh Phintraco Sekuritas dan Bursa Efek Indonesia. Tiap minggu rutin ada jadual kelasnya loh, gratis gak pakai bayar. Dari yang bener-bener gak tau apa-apa tentang pasar bursa, tentang saham, tentang pergerakan saham, jadi lumayan tahu dan paham.

Saya bersyukur banget karena bukan hanya di Pulau Jawa saja tapi masyarakat di luar Jawa seperti di Kalimantan Tengah ini mendapat pengetahuan yang sama tentang investasi saham. Salut untuk Phintraco Sekuritas, Bursa Efek dan pemerintah.

Masa iya sih kita orang Indonesia yang jumlahnya ratusan juta masih kalah dengan negara-negara tetangga terus ? Dengan bertambahnya ilmu dan pengetahuan tentang saham, di harapkan jumlah para investor di Indonesia akan meningkat nih. Kalau jumlah investor meningkat, pasar bursa akan semakin besar dan perekonomian akan semakin "ramai".

Ada yang tahu atau pernah baca tentang Warren Buffet ? Beliau merupakan salah satu orang terkaya di dunia lohh, silahkan googling kalau tidak percaya hehehe. Dan kekayaan beliau ini karena hasil berinvestasi saham sejak puluhan tahun yang lalu.

Ada yang tahu atau pernah dengar atau pernah baca tentang Ellen May ? Mbak cantik dari Solo ini juga sudah sukses menjadi trader dan investor saham. Bahkan beliau sudah menerbitkan beberapa buku tentang bagaimana cara berinvestasi saham. Saya punya 1 bukunya, kurang 1…hehe..pamer lagi hahh..


buku smart trader rich investor
smart trader rich investor

Apakah kita bisa mencontoh orang-orang sukses tersebut ? Bisa…meskipun tidak ada di dunia ini yang instant kecuali mi instant, itupun harus di rebus dulu, kecuali yang mie cup yess. Tapi kalau kita mau, kita bisa, yang penting belajar, belajar, belajar.

Ehh situ teori melulu, emang situ sudah beli saham perusahaan apa ? Eh oh ada yang ingin tahu ya ? Well, saya masih memulai alias pemula sih, jadi hasilnya juga belum banyak, ruginya yang banyak wkwkwkwk. Tapi yang penting saya sudah mulai dan berani membeli saham.
Saat ini saya pegang beberapa saham seperti salah satu toko retail besar, saham perusahaan tambang, saham perbankan, dll. Lebih dari 5 ^^

Sementara itu dulu deh sharing dari saya tentang investasi, sharing dari pemula ^^ semoga bermanfaat yaa...

2 komentar on "Investasi vs Menabung"
  1. Setujuuuuu :). Krn aku kerja di salah satu bank asing, skr mindsetku jg ga nabung lagi mbam tp investasi.. So far yg aku beli biasanya reksadana, obligasi , emas, dan main di forex :p. Kalo saham aku ga berani, krn blm pengalaman di situ :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren banget mba, semua investasi sudah di coba ^^

      Hapus

Please comment here :

Auto Post Signature