Review Film The Accountant | Indri Ariadna

Top Social

Review Film The Accountant

5/10/2017
Life is a series of choices, none of which are new. The oldest is choosing to be a victim. Or choosing not to. Second oldest, loyalty. Family first, good times or bad.

Saat film ini masuk di daftar coming soon cinema 21, sudah ingin banget nonton karena sinopsisnya mayan menarik. Apalagi yang main Bang Ben Affleck hehehe. Tapi apa daya belum sempat antri tiket, filmnya sudah selesai di putar. Yahh beginilah nasib tinggal di kota kecil hanya dengan hanya 1 bioskop.

review film the accountant
film the accountant


Saya mengira (suami juga) bahwa film ini adalah film full action dengan adegan full adu jotos atau film bergenre spionase begitu. Ternyata kami salah besar saudara-saudara......
Film ini bukan sekedar film action tapi juga family movie. Selain banyak adegan perkelahian dan tembak menembak, film ini juga berbicara tentang kebersamaan keluarga dan khususnya tentang autisme. Yeeappp, Bang Ben sebagai pemeran utama dan menyandang autisme berat.

Ben Affleck berperan sebagai Christian Wolf, seorang anak yang mengidap autis berat tetapi sangat jago menyusun puzzle bahkan dalam posisi terbalik, gambar puzzle menghadap ke bawah. Meski autis tapi dia seorang jenius matematika dan angka. Chris anak pertama dari 3 bersaudara, yaitu Braxton (cowok) dan Justine (cewek, autis juga). Braxton satu-satunya anak yang "normal" jika di bandingkan dengan kakak dan adiknya.

Seperti yang sudah sering saya baca dan juga dengar, setiap anak pasti mempunyai kemampuan yang unik, sehingga kita sebagai orang dewasa tidak seharusnya menggeneral atau menyamakan satu anak dengan anak-anak lain. Mereka masing-masing mempunyai kelemahan dan kekuatan yang berbeda. Pun anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme. Di lihat dari luar, mereka mungkin sangat tidak menarik. Bahkan ibu christian wolf bilang, kalau orang lain yang mempunyai anak autis, itu ujian tapi kalau kita sendiri yang mempunyai anak autis, it's a problem. Di lihat dari kata-katanya, emaknya Chris sepertinya sudah pasrah menyerah mempunyai 2 orang anak autis.

Ayah Chris adalah seorang militer yang untungnya mempunyai pemikiran yang out of the box. Pemikiran sang ayah tentang anak-anaknya yang autis bahkan sangat berbeda dengan pemikiran si psikiater yang sengaja di undang ke rumah untuk melihat anak-anaknya. Apalagi dengan istrinya sendiri.

Sementara itu, si ibu semakin lama semakin tidak tahan menghadapi 2 orang anak autis di rumah dan memutuskan pergi dan keluar dari rumah meninggalkan suami dan anak-anaknya.

Tahu ibunya pergi, chris "kumat". Karena dia autis, dia tidak bisa mengkomunikasikan apa yang dia inginkan secara "normal". Inginnya dia, ibunya tidak pergi tapi dia hanya bisa berteriak-teriak, berlari kesana kesini, menendang dan membanting beberapa pernik-pernik rumah.

Braxton hanya bisa memandangi kakaknya dan kemudian memandang kepergian ibunya dengan mengacungkan jari tengah. jengkel banget dia sama si ibu karena lepas tanggung jawab begitu saja.

Di film ini, meskipun saya sama sekali enggak keluar air mata tapi tetep saja saya benar-benar takjub dan kagum dengan cara si ayah merawat ketiga anaknya yang notabene 2 anaknya menderita autis. Si ayah tidak membedakan anak-anaknya, baik dalam hal perhatian maupun skill (kemampuan). Bahkan Chris bisa masuk ke militer setelah dewasa.

2 anak laki-lakinya yaitu si Chris dan Braxton, di ajari kemampuan untuk bertahan hidup, di ajari bela diri semenjak kecil. settingnya saya rasa di Jakarta deh karena Chris sempat ngomong pakai bahasa indonesia sedikit kepada pelatih bela dirinya. "tidak apa-apa, lanjutkan saja" begitu dia bilang. Itu setelah pelatihnya merasa kasihan melihat 2 anak tersebut babak belur dan hidungnya beler darah. Tapi sang ayah bilang kepada pelatih, kalau kamu bilang sudah cukup latihannya, itu berarti kamu yang harusnya berdarah, bukan mereka. Sang ayah ingin melihat sampai di mana batas kemampuan anak-anak lelakinya.

Cerita berlanjut saat Christian Wolf sudah dewasa dan menjadi seorang akuntan. Bukan akuntan biasa tapi dia menangani pembukuan bisnis para mafia dan gembong kejahatan. Dengan di bantu oleh Justine, adik perempuannya yang setelah dewasa tumbuh menjadi seorang jenius komputer, meskipun masih mengalami autis berat.

Perbedaan, dalam hal apapun pasti menyisakan tanya ataupun perkataan yang terkadang bisa sangat menyakitkan.

Salah satu perkataan sang ayah yang saya suka dari film ini :
Sooner or later, different scares people.
Karena si ayah tahu, anaknya yang penyandang autis pasti berbeda dengan anak-anak normal yang lain. Kemungkinan sebagai korban bully, bukan kemungkinan lagi tapi memang Chris sudah di bully teman-temannya. Chris di bully teman-temannya sampai kacamatanya remuk. Dia bilang ke ayahnya, gak papa kan cuman kacamata aja. Tapi tahu gak ayahnya bilang apa ? Memangnya kalau kamu diam lalu mereka berhenti membully kamu dan berhenti memanggilmu si aneh ?
Dengan latar belakang seorang militer, ayah Chris mengajari anak-anaknya agar tidak memilih menjadi korban. Fight back !

Well, sebagai orangtua, saya bisa membayangkan bagaimana susahnya membesarkan 3 orang anak sendirian, tanpa istri, tanpa pendamping. tapi ayah Chris memang luar biasa. Luar biasa karena dia pantang menyerah dalam hal mendidik dan memberikan bekal yang cukup untuk anak-anaknya. Apalagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Karena di bekali kemampuan bertahan hidup yang cukup, 3 bersaudara tersebut pada akhirnya bisa menghidupi diri mereka sendiri, bahkan membantu anak-anak autis yang membutuhkan pertolongan. Yess, si psikiater pada akhirnya membuka sebuah sekolah khusus untuk anak-anak autis karena terinspirasi dari Justine, adik Chris yang sudah dia anggap anaknya sendiri.

Karena film ini sudah beredar tahun 2016 lalu, tidak usah saya cantumkan link you tube-nya ya, hanya ingin sekedar berbagi saja hehehe.

Bagi saya pribadi, menonton film ini sekali tidak cukup, beneran. Hikmah menonton film ini banyak banget, antara lain :

1. Tentang bagaimana membekali anak-anak kita dengan skill dan kemampuan untuk hidup karena sebagai orangtua, kita tidak bisa mendampingi mereka selamanya.

2. Menerima apapun keadaan anak kita, di film ini, anak-anak yang menderita autis berat. Menerima, mensyukuri dan kemudian membantu mereka menapaki jalan hidup mereka sendiri.

3. Orangtua harus mengerti dan memahami anak-anaknya. Apa saja yang harus mereka pelajari, apa saja yang menarik minat mereka, karena setiap anak berbeda.

4. Warisan, selain harta yang tidak setiap orangtua punyai untuk di wariskan kepada anak-anaknya, ada hal yang lebih penting dari itu. Mewariskan cara hidup yang sesuai dan benar kepada anak-anak kita. Mewariskan pemahaman bahwa keluarga adalah hal terpenting. Bahwa sebagai orangtua, sebagai kakak, sebagai adik kita akan selalu mensupport anggota keluarga yang lain di saat susah maupun senang.

5. Bahwa kekurangan (autis) bukanlan aib dan bukanlan ketidaknormalan. Mereka, meskipun menderita autis namun dalam hal yang lain adalah jenius, bahkan bisa lebih jenius daripada orang-orang normal.

Sekian, semoga menginspirasi ^^


Post Comment
Post a Comment

Please comment here :

Auto Post Signature