5/17/2017

Cita-Cita Anak Atau Cita-Citamu Sebagai Orang Tua ?

mendukung cita-cita anak
via pexels
Beberapa minggu yang lalu, kakak ipar serta keponakan kami di Semarang sering menelpon. Maklum, anak sulung kakak ipar sebut saja Ivy tahun ini lulus SMA dan sedang bingung mau memilih jurusan serta fakultas dan universitas apa.

Dari gurunya, Ivy mendapat saran untuk memilih jurusan Perikanan atau Peternakan. Tapi tetep saja, orang tua dan anak masih bingung menentukan pilihan. Yaahhh, memang tidak mudah menentukan pilihan, tidak sama seperti saat aku memilihmu....hahak.

Informasi yang kami terima, ternyata Ivy tidak lolos seleksi dan kemudian mereka bingung lagi harus mendaftar kemana hehehehhh..

Saya kemudian teringat masa-masa dulu kala saat saya seusia Ivy dan juga menghadapi tahun kelulusan SMA. Bedanya, saya sudah mengetahui ingin masuk ke jurusan apa. Karena sejak SMP saya sangat menyukai mata pelajaran bahasa inggris, cita-cita saya selepas SMA adalah ingin kuliah di akademi bahasa asing.

Saat penjurusan di kelas 2 SMA pun, saya ingin masuk ke kelas bahasa tapi karena nilai saya saat itu mencukupi untuk masuk ke kelas IPA, akhirnya saya masuk juga ke kelas IPA. Apalagi karena dorongan juga dari orangtua. Tapi kecintaan saya akan bahasa inggris tidak pernah padam.

Setelah lulus dan ternyata tidak bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, kepingin saya saat itu tetep masuk ke akademi bahasa asing swasta, saat itu namanya ABA (Akademi Bahasa Asing).

Apa daya, cita-cita saya untuk masuk ke akademi bahasa di tentang sedemikian keras oleh ibuk saya, wanita yang selama ini membiayai sekolah dan menghidupi saya. Beliau bertanya, nanti kalau kamu masuk di sana mau jadi apa ? Udah, mendingan masuk ke akademi perbankan saja, sama seperti pakdhe dan om-mu dulu. Nanti kalau kamu lulus, pakdhemu pasti bisa memberikan kamu pekerjaan wong beliau kepala cabang, mosok gak mau membantu keponakannya sendiri. Demikian ibuk saya bilang.

Wuihh keren ya punya pakdhe seorang kepala cabang di salah satu bank. Meskipun tidak terlalu sering bertemu dan tidak terlalu akrab, dalam hati ikutan bangga punya pakdhe yang sukses dalam berkarir.

Saya tidak kuasa menolak permintaan ibuk. Beliau satu-satunya orang tua yang menopang semua kebutuhan hidup saya. Ayah ? Masih ada tapi orang tua saya bercerai sejak saya belum genap berumur 1 tahun. Pun secara finansial, ayah saya tidak pernah menafkahi saya putrinya ini. Jadi yaa lupakan saja...

Akhirnya, demi mendamaikan hati ibuk, saya mengalah, masuk ke akademi perbankan dan mengambil diploma 3, kasihan ibu saya kalau saya mengambil strata S1, berarti saya harus kuliah lebih lama. Adik-adik saya juga masih butuh biaya untuk bersekolah. Saya mempunyai 3 adik perempuan.

Yang tidak ibuk saya ketahui, mungkin sampai hari ini, saya seringkali membolos kuliah, terutama saat-saat jam kuliah sore hari. Meskipun pada akhirnya saya lulus, tapi lulus dengan nilai rata-rata. Nilai A hanya beberapa dan salah satunya adalah nilai bahasa inggris. Hampir semua nilai saya banyak yang C hahahaha.....Maafkan ya buk :)

Setelah lulus kuliah, apakah cita-cita ibuk saya tercapai ? Apakah pakdhe saya membantu saya mencarikan pekerjaan ? Tidak, karena saya sama sekali tidak pernah meminta-minta pekerjaan dari pakdhe saya. Tidak pernah saya menelpon pakdhe karena memang tidak terlalu akrab, apalagi menelpon untuk meminta pekerjaan,,,fiuhhhh...
Dan ibuk juga tidak pernah menelpon pakdhe. Lalu saya berpikir, lha untuk apa saya membuang waktu 3 tahun di akademi perbankan, jurusan yang tidak saya sukai.

Jadi kemudian saya pikir, benar-benar gak ada gunanya kuliah sekian lama tapi kemudian harus mencari pekerjaan sendiri. Mendingan dulu saya kuliah di akademi bahasa deh. Meskipun sama-sama harus mencari pekerjaan sendiri, tapi kan ada nilai plus-nya karena saya suka pelajaran bahasa.

Saat saya bekerja di Jepara tahun 2001, 2 orang teman saya dua-duanya lulusan Undip Semarang. Jauhh banget deh dengan tempat kuliah saya dulu yang notabene perguruan tinggi swasta.

Di tempat kerja, mungkin karena saya kelihatan cakap dan pandai, mereka bertanya kepada saya, "Ind dulu kamu kuliah di Undip ya? IPK-mu berapa ?"

Saat saya jawab saya tidak kuliah di Undip kok, saya kuliah di perguruan tinggi swasta dan IPK saya cuma 2 koma sekian, mereka tertawa ngakak dan berkata, "oalah Ind tak pikir kamu lulus cumlaude. Lha kok IPK cuma sekian."

Well... saya sih tidak marah walaupun mereka istilahnya agak "ngenyek" saya gitu. Mereka toh tidak tahu apa yang saya jalani saat-saat jaman kuliah dulu dan segala tetek bengek alasan mengapa saya mendapat IPK cuman sekian.

Tapi saya bersyukur, sampai hari ini bahwa saya tidak pernah meminta-minta pekerjaan dari pakdhe saya. Meskipun saat itu beliau menjabat sebagai salah satu kepala cabang daerah di kota Semarang. Yang mungkin akan gampang memberikan saya sebuah pekerjaan tanpa melamar, mungkin...
Apakah saya kecewa ? Tidak karena saya tahu saya tidak menyukai bekerja di belakang meja seharian dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Terlalu statis.

Pada akhirnya saya memang harus mencari pekerjaan sendiri. Mendaftar dan melamar di berbagai lowongan pekerjaan sana-sini berbekal ijazah dan sedikit pengetahuan tentang ekspor impor. Ohya, saya sempat mengikuti training ekspor impor dengan harga lumayan saat itu, kalau tidak salah 200 ribu. Saya sampai harus menjual anting-anting demi bisa ikut training tersebut. Dan memang ada gunanya juga karena pada akhirnya saya di terima bekerja sebagai asisten marketing ekspor di perusahaan mebel di Jepara.

Tuhan memang keren, meskipun saya tidak kuliah di akademi bahasa, tapi kemampuan bahasa inggris saya semakin berkembang, terutama karena berkomunikasi via email dan bahkan via telepon dengan banyak buyer asing. Bahkan ketemuan saat mereka mengunjungi pabrik tempat saya bekerja. Memenuhi undangan sarapan di hotel, bahkan saya sempat menjadi agen/perwakilan dari salah satu buyer tersebut.

Apa yang dulu saya cita-citakan, apa yang sangat saya sukai yaitu bahwa inggris Tuhan berikan di pekerjaan saya sebagai marketing ekspor.

Sedari lulus kuliah hingga sekarang saya tidak bekerja lagi, tidak sekalipun saya bekerja sesuai dengan bidang akademis saya yaitu keuangan perbankan. Sama sekali tidak pernah, malah menikmati karir menjadi marketing yang tidak harus duduk di belakang meja.

Sekarang saat saya sekarang sudah menjadi orang tua, satu keinginan saya supaya anak saya mempunyai cita-citanya sendiri. Saya tidak akan membiarkan dia mengejar cita-cita milik orang lain, bahkan cita-cita orang tuanya.

Saat suami berkeinginan menyekolahkan dia sebagai entrepreneur atau wirausaha, anak saya sempat menolak dan bilang, aku nanti kuliahnya di jurusan komputer aja katanya. Dia bilang ingin bekerja di Google. Saya tersenyum kecil saat mendengar cita-citanya.

Kepada suami saya bilang, biarkan anak kita menapaki jalannya sendiri. Kalaupun nanti kita ingin mengajari dia tentang wirausaha atau belajar tentang investasi, itu bisa kita ajarkan sendiri, tidak perlu mengorbankan keinginan dan cita-cita anak demi kita, orang tuanya.

Salah satu warisan yang ingin kami berikan sebagai orang tua kepada anak kami, adalah pengetahuan tentang pengelolaan uang. Bukan besarnya gaji yang membuat seseorang bisa membeli rumah atau berinvestasi, tapi lebih kepada kemampuannya untuk mengelola keuangan. Dan menurut kami, kemampuan untuk mengelola keuangan merupakan salah satu kemampuan bertahan hidup yang penting.

Jadi, apa cita-cita kalian yang belum tercapai?

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

Tidak ada komentar

Please comment here :