lomba blog gampang-gampang susah
event

Setiap mendengar atau mmbaca tentang LDR (Long Distance Relationship), angan saya kembali melayang ke masa 3 tahun yang lalu.
Artikel terkait : Sukses Semuda Mungkin



Anak lelaki saya saat itu masih kelas 3 SD dan begitu dekat dengan ayahnya. Mungkin karena naluri sesama lelaki, cara bermain mereka (ayah dan anak) benar-benar berbeda dengan cara bermain saya dan anak. Ayah dan anak sangat hobi main PS bareng, bermain ala-ala smackdown bareng, berenang bareng. sampai main mobil-mobilan bareng. Kalau sudah begitu sangat sulit membedakan yang mana ayah dan yang mana anak hehehe.... Saya sangat bahagia melihat mereka.
Hingga suatu hari suami saya mengutarakan niat untuk membuka usaha di luar pulau tepatnya di pulau Kalimantan. Suami saya seorang wiraswasta sedari muda dan tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk bekerja kantoran seperti saya.

Saat itu, selain sebagai ibu rumah tangga saya juga bekerja sebagai sales dan marketing di salah satu perusahaan furniture di Semarang. Bos/atasan saya adalah seorang berkebangsaan Jerman dan meskipun di mata orang beliau sangat galak dan temperamental, tetapi saya cocok dengan beliau dalam hal pekerjaan. Plus saya sangat menyukai pekerjaan yang sudah saya jalani selama hampir 15 tahun (meskipun beberapa kali berganti perusahaan).
Gaji dan bonus yang setiap bulan saya dapatkan juga bagi saya cukup lumayan untuk membantu keuangan keluarga. Berinteraksi dengan klien bule, kejar-kejaran deadline pengiriman barang dengan departemen produksi dan subkontraktor menjadikan hari-hari saya penuh semangat.
Sementara suami saya berpikir dan merasa bahwa usahanya di Semarang berjalan di tempat alias stagnan. Lebih banyak penjual daripada pembeli sehingga omset penjualan seringkali tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Saya tidak pernah menyangka suami saya mempunyai rencana untuk membuka usaha di luar Pulau Jawa. Sama sekali tidak pernah menyangka. Yang saya tidak habis pikir adalah, kok ya bisa-bisanya memilih lokasi di luar Jawa, kalau di luar kota mungkin masih masuk akal ya...lhaa ini kok mau buka usaha di Pulau Kalimantan. Pulau yang hanya pernah saya lihat di peta dan Atlas saat masih SD dulu.
Saat itu saya menentang rencana suami saya karena saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana nanti kami (saya dan anak) akan hidup sendirian tanpa dia. Sama sekali tidak pernah terbayangkan dan saya takut sekali membayangkan dan berdoa supaya jangan sampai hal itu terjadi.
Tetapi ternyata suami saya lebih keukeuh maksimal, tidak bisa di rayu dan di belokkan sedikitpun. Sedikit banyak saya bisa mengerti perasaannya sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Suami saya bilang, kalau dia tidak mencoba membuka usaha di tempat baru, maka kami akan lebih lama mengumpulkan uang untuk biaya sekolah anak, renovasi rumah, investasi, jalan-jalan dan sebagainya.
Saya benar-benar terjebak dilema antara iya dan tidak, setuju atau tidak, walaupun meski saya tidak setuju suami saya tetap akan berangkat. Selain itu, saya tidak tahu bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada anak kami. 

Dan benar saja, saat saya dan ayahnya memberitahu bahwa ayahnya mau membuka usaha di Kalimantan, anak saya menangis histeris sambil bilang "tidak boleh, tidak boleh pergi" Hati saya bertambah hancur dan saya ikutan menangis.
Begitulah manusia, tidak akan pernah bisa merasakan penderitaan orang lain sampai dia sendiri mengalaminya. Pun begitu dengan saya, saat banyak teman dan orang bilang sedang LDR-an dengan suami/istri/pacar saya tidak terlalu nggagas. Halah gitu aja kok baper, pikir saya.
Dan saat itu terjadi kepada saya, baru saya bisa ngeh dengan perasaan mereka, campuran rasa terluka, tidak terima, tidak mampu, merasa kehilangan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Berasa lemah tak berdaya.
Singkat cerita, setelah 3 tahun LDR-an dengan suami, dilema melanda lagi. Saya harus segera memilih antara keinginan hidup bersama dengan keluarga (suami, saya dan anak) atau tetap meneruskan pekerjaan sebagai wanita karir.

Yang menjadi pikiran saya saat itu, tanpa kehadiran bapaknya, tingkah laku dan kenakalan anak saya semakin menjadi-jadi. Mungkin ini bentuk protesnya sebagai anak-anak ya atau karena kurang perhatian. Berkali-kali saya harus di panggil wali kelas bahkan kepala sekolah untuk membicarakan dan berdiskusi mengenai hal-hal tentang anak saya.

Beberapa hal yang kemudian membuat saya memutuskan untuk mantap melepaskan pekerjaan dan mengikuti suami di Kalimantan adalah :
  • Saya meyakini bahkan mengharuskan bahwa sebuah keluarga harus hidup di atap yang sama, di manapun mereka berada.
  • Anak saya adalah seorang laki-laki yang masih berada di dalam tubuh seorang anak kecil. Dia sangat membutuhkan bapaknya sebagai panutan dan teladan. Jika tidak ada kehadiran bapaknya, saya takut dia tidak akan bisa tumbuh dengan baik.
  • Rejeki tidak akan kemana dan saya mempercayakan kepada suami saya sebagai kepala keluarga dan suami saya juga tidak masalah saya tidak bekerja lagi.
  • Selama masa LDR saya sering jatuh sakit, terkena maag, biduran, vertigo dll. Sepertinya imun tubuh saya mengalami masalah. Mungkin karena saya stress.

Saya kemudian memutuskan dengan mantap untuk resign dari tempat saya bekerja. Tidak mudah ya untuk berpisah dengan pekerjaan yang sangat saya sukai. Terutama berpisah dengan ibu dan saudara-saudara saya. Rasanya berat banget...saat berpamitan dengan ibuk saya, tangis saya pecah. Bahkan sampai di bandara, saya tidak bisa menghentikan tangis karena merasa sangat terharu.

Saya tahu, saat saya memutuskan untuk pindah ke Kalimantan, waktu untuk menjenguk dan ngopi bareng dengan ibuk saya tidak akan bisa saya lakukan dengan mudah seperti dulu. Tapi saya memantapkan hati, memandang suami dan anak saya dan kemudian hati saya menjadi tenang kembali.

Sekarang ini, saya sudah menetap selama 3 tahun di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan saya sama sekali tidak menyesal akan pilihan yang sudah saya buat.
Kami sekeluarga baik-baik saja dan bahagia karena bisa berkumpul bersama meskipun berjauhan dengan keluarga besar kami.

Artikel ini saya ikutkan dalam Lomba Blog "Dilema"

Bonus : Ini keluarga kecil saya saat staycation hari Sabtu kemarin di Swiss-Belhotel Danum Palangkaraya 😍 ngruntel bertiga ^^


dilema keluarga
ngruntel