Top Social

Sponsored : Cerita Seorang Freelancer

9/15/2016
beli tiket dan menginap menggunakan traveloka
cerita tentang traveloka

Saat masih menjabat sebagai karyawan dan freelance sales, sering sekali di mintai tolong customer untuk booking hotel, tempat mereka akan menginap di kota Semarang. Juga sering memesankan tiket pesawat kelas bisnis.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa sih customer nya manja sekali ?

Ehmm....begini ya teman, sebagai sales, kita di tuntut untuk bisa menjaga dan memelihara hubungan baik dengan pembeli alias customer. Jangan sampai customer yang kita dapatkan dengan susah payah tersebut berpindah ke lain hati alias berpindah ke kompetitor kita. Kan rugi, sudah capek memprospek, butuh waktu yang tidak sebentar lohh, terus si customer lebih memilih kompetitor? Sakitnya tuh di sini....#kakipegelpalamumet




Di tambah lagi, mereka jauh-jauh datang dari benua Amerika dan Eropa, masak iya harus repot sendiri saat ada saya.....upss pede banget.

Saat itu saya menjual garden furniture yang memang sangat banyak sekali kompetitornya. Penjual atau supplier ada ratusan tapi pembeli hanya ada puluhan.
Memang job desc saya all in alias mana yang bisa di kerjakan ya di kerjakan, kecuali nyetir mobil, gak ada kemampuan.

Jemput customer di bandara, kemudian mengantar ke pabrik tempat produksi [Jepara], makan siang kemudian balik lagi ke Semarang mengantar si customer ke hotel. Tapi senang rasanya meskipun capek. Lebih senang lagi kala komisinya cair ...upsss.

Tempat menginap di Semarang yang bisa di rekomendasikan ke customer adalah Gumaya Tower Hotel dan Novotel Hotel. Alasannya ? Hotelnya tergolong bangunan baru, berbintang dan yang paling penting, lokasinya terletak di jalan utama.




Bookingnya bagaimana ? Mudah en gampang banget...pakai Traveloka dong ah. Bisa booking via aplikasi ataupun website. User friendly, sistem pembayaran juga mudah.

Ada juga manfaatnya bagi saya, seringkali di undang customer untuk breakfast bareng....mayan kan, sarapan gratis di hotel berbintang hehehe...

Saya juga bersyukur sekali, semua customer saya itu tidak ada yang aneh-aneh seperti minta lipstick keluaran terbaru atau cari durian matang. Paling hanya antar jemput di hotel tempat dia menginap.

Pembicaraan mengenai order pun seringkali malahan lewat email. Jarang mereka placing order saat datang berkunjung.

Apakah tidak terkendala bahasa ? Ya pastilah, semua customer saya menggunakan bahasa inggris dan ada juga yang memakai bahasa jerman.
Apakah tidak gugup bertemu dengan bule alias orang asing ? Ya itu pasti, tapi gak usah lebay, biasa saja, kita kan sesama manusia. Bedanya, mereka tinggi dan saya pendek. Mereka putih saya sawo mateng, dah itu saja.

Butuh latihan dan proses yang tidak mudah dengan bahasa yang berbeda, apalagi kalau berkaitan dengan logat.
Kalau saya berbahasa inggris dengan logat medok semarangan, sementara para customer itu berlogat macem-macem tergantung dari Amerika, Inggris, Australia atau Jerman. Logat bahasanya berbeda sekali. Jadi harus sering-sering melatih telinga atau pendengaran.

Sekarang, sudah 3 tahun saya tidak mempunyai sparing partner untuk berbicara bahasa inggris, jadinya agak-agak luntur gimana gitu. Plus tidak pede [emang mau ngrumpi sama siapa bu?]

Ada yang mau jadi sparing partner saya ?


Post Comment
Posting Komentar

Please comment here :

Auto Post Signature